Stroke Menguras Fisik dan Mental!

Mungkin boleh dibilang stroke adalah salah satu penyakit yang sedang buming saat ini. Banyak orang, tidak hanya usia 50 tahun ke atas, mengalami peyakit yang sangat nyebelin ini! Bahkan beberapa bulan yang lalu, penulis sempat bertemu penderita stroke yang boleh dibilang masih cukup muda. Usianya mungkin masih sekitar 30an.

Stroke, kenapa kamu ditakuti?

Penyakit ini biasanya terjadi tidak tiba-tiba, tapi bertahap. Walaupun untuk beberapa kasus juga bisa terjadi secara tiba-tiba, misal karena kecelakaan.

Hampir sebagian besar pasien dengan penyakit ini tidak langsung meninggal ketika terkena stroke, tapi biasanya lebih dulu mengalami kelumpuhan dibeberapa anggota bagian tubuh. Yang paling umum sih menyerang satu sisi anggota badan.

Misal jika yang terkena stroke adalah bagian otak kanan, maka yang mengalami masalah kelumpuhan adalah bagian sisi kiri badan. Begitu juga sebaliknya! Nah ada juga saking parahnya, yang terkena ke dua sisi otak, sehingga menyebabkan kelumpuhan secara menyeluruh,

Faktor kelumpuhan dari stroke biasanya menjadi tantangan terberat bagi pasian. Tidak mudah loh melakukan aktivitas sehari hari dengan kondisi fisik terbatas. Dan hal ini juga mempengaruhi keluarga pasien.

Karena pasien butuh support dalam aktivitas sehari-hari — seperti; makan, mandi, dan aktivitas dasar lainnya — mau tidak mau keluarga juga harus siap siaga untuk memberikan support tersebut. Kalau hal ini berlangsung satu dua hari sih mending, bagaimana kalau sampai berlangsung tahunan. Tentu tantangan yang berat bukan!

Belum ditambah faktor ekonomi. Biaya perawatan pasien stroke cukup menguras kantong, tergantung seberapa parah tingkat sakit dan kelumpuhannya. Terlebih lagi jika yang terkena stroke adalah orang yang jadi penyokong ekonomi keluarga. Tentu lebih signifikan dampaknya.

Hal yang demikian akan memicu stress. Dan jika sudah stress, badan rentan terhadap sakit (termasuk untuk keluarga pasien). Untuk pasien sendiri, stress yang tidak terkontrol akan berdampak buruk untuk proses penyembuhannya.

Dan jika stroke tidak terkontrol tentu akan menyebabkan komplikasi yang serius. Contoh kelumpuhan, daya ingat yang menurun, hilangnya kemampun untuk mengontrol buang air kecil (urin), kehilangan kemampuan untuk berbicara dengan normal, depresi, atau bahkan koma. Selain itu, secara umum orang stroke juga rentan terkena penyakit lainnya seperti masalah jantung dan sakit gula.

Jadi masih berpikir kalau stroke tidak menyeramkan?

Apa bisa dicegah?

Jawabannya sangat mungkin bisa. Bahkan jika kamu memiliki faktor keturunan, masih banyak hal yang dapat kamu lakukan untuk mencegahnya!

Dalam dunia medis, tidak ada yang bisa ngasih garansi 100 persen apakah seseorang bakal terkena stroke atau tidak. Oleh karena itu digunakanlah yang namanya ‘faktor resiko’.

Faktor resiko disini artinya faktor atau kondisi tertentu yang meningkatkan kemungkinan kamu terkena stroke. Makin banyak faktor resiko yang kamu milki, makin besar kemungkinan kamu terkena.

Berikut beberapa faktor resiko dari stroke yang tidak dapat kamu ubah:

  1. Faktor keturunan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, memilki garis keturunan stroke dapat meningkatkan resiko. Misal jika ibu, bapak, atau salah satu saudara kandung kamu memilki riwayat stroke, kemungkinan kamu untuk terkena lebih besar dibandingkan orang lain yang tidak mimiliki faktor keturunan ini.
  2. Resiko akan stroke semakin meningkat dengan bertambahnya usia.
  3. Faktor jenis kelamin. Secara umum pria lebih tinggi resikonya untuk terkena stroke dibanding wanita.

Jika kamu memiliki faktor resiko diatas, tenang…. Masih banyak kok hal-hal yang dapat kamu lakuin untuk memperkecil resiko kamu dan mencegah stroke, contoh:

  1. Mejaga berat bedan. Badan yang gemuk membuat kamu memiliki beragam kondisi yang menyebakan kamu rentan terkena stroke diantaranya diabetes dan hipertensi. Dan yang tidak kalah penting, lingkar perut kamu juga perlu tuh dikasih perhatian. Meskipun kurus, resiko kamu tetap cukup tinggi jika perutmu terlalu buncit.
  2. Olahrage teratur. Gaya hidup yang pasif (kurang gerak) juga dapat membuat kamu rentan terhadap kondisi medis yang dapat memicu stroke, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, asam urat tinggi, dll.
  3. Pola makan sehat dan seimbang. Terutama hindari makanan yang terlalu asin, manis, dan berlemak!

Prediksi setelah terkena stroke

Pertanyaan ini sulit untuk dijawab, karena tergantung dari beragam faktor. Tertutama sebarapa parah tingkat strokenya dan seberapa cepat pasien mendapat pertolongan medis secara tepat.

Jika stroke itu ringan (transient), kemungkinan untuk pulih 100 persen cukup besar. Apalagi jika pasien segera mendapatkan pertolongan medis dengan cepat. Jenis transient ini boleh dibilang awal mula sebelum terjadi stroke yang sebenarnya. Pada tahap ini, komitmen untuk menjalani hidup yang sehat sangat penting untuk mencegah serangan stroke yang lebih serious selanjutnya.

Namun jika telah menyebabkan kerusakan yang permanen, tentu lebih susah untuk dipulihkan. Tingkat pulih diatas 60 persen bisa dibilang sudah cukup bagus.

Secara garis besar, ada dua tipe stroke; penyumbatan dan pendarahan. Keduanya dapat berakibat fatal jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat.

Sedikit berbagi cerita

Masih segar diingatan penulis kejadian tragis yang dialami salah satu saudara Ayah. Beliau meninggal pada usia kurang lebih 58 tahun. Dan naasnya tidak ada gejala apapun sebelumnya. Beliau hanya mengeluh soal rasa pegal dilutut dan kadang-kadang pusing, gejala ini tentunya sangat umum pada orang tua dan dapat disebabkan banyak faktor.

Yang penulis ingat betul, beliau pernah mengeluh kesemutan dikaki terus menerus. Normalnya, kesemutan seharusnya reda jika faktor yang menyebabkannya dihilangkan. Misal jika kamu jongkok dalam waktu lama, kesemutan di kaki adalah hal yang normal. Nah yang ini beda, tanpa sebab yang jelas beliau mengalaminya. Tapi entah gimana gejala kesemutan ini akhirnya hilang, kataya sih setelah diobati dengan pengobatan alternatif (maklum karena tinggal di dusun).

Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya setelah hari raya lebaran tahun kemarin, beliau secara mengagetkan terkena stroke. Tak tanggung-tanggung, beliau langsung koma selama satu minggu dan akhirnya meninggal.

Dokter yang menanganinya mendiagnosis beliau terkena stroke pendarahan di otak sebelah kiri. Meskipun segera dilarikan ke rumah sakit, tingkat pendarahannya telah mencapai 80 persen. Dokter menawarkan operasi dengan biaya tentu cukup sangat menguras kantong. Namun karena pertimbangan tingkat keberhasilannya yang boleh dibilang minim, pada akhirnya keluarga memutuskan untuk melakukan perawatan tanpa operasi.

Sebenarnya kejadiannya ini bisa dicegah dengan melakukan langkah-langkah preventif sedini mungkin. Jika mengalami gejala-gejala stroke (seperti kesemutan tanpa sebab jelas, bicara yang nglantur (gerak bibir miring sebelah), atau kelumpuhan disebagian sisi anggota tubuh), segera dibawa ke dokter!

Untuk lebih amannya sih, sangat direkomendasikan untuk melakukan medical checkup secara berkala, tertutama untuk pengecekan tekananan darah, gula darah, tingkat asam urat, dan tingkat kolesterol darah kamu. Dengan antisipasi sejak dini, stroke dapat dicegah!

Apa Pendapatmu?